Tuesday, June 28, 2005

catatan baru

Yang usang dah usang.
Setelah cukup lama merenung yang lebih dari ribuan detik waktu aku gunakan untuk merenung.
Sesungguhnya hakikat ku hidup adalah untuk memberikan apa yang mesti kuberikan kepada sesama tanpa berharap sesama itu memberi imbalan atas apa yang kuberi itu.
Aku mesti tau bahwa aku datang bukan untuk dilayani, tapi untuk membantu dan mengembalikan apa yang diberikan kepadaku oleh seseorang yang berkuasa kepada orang yang membutuhkan.
Aku tak perlu menyesali atau tepatnya memperhitungkan untung rugi dari pengorbanan yang kulakukan. Aku harus tahu aku berkorban karena itu merupakan tugasku sebagai orang yang harus berkorban. Dia diberikan Tuhan hanya sebagai pinjaman yang kuminta dari Tuhan. Yah aku boleh minjem ama Tuhan itu sudah lebih dari cukup. Seandainya Tuhan menarik yang dipinjamkannya kepadaku kapan saja itu hakNya ( what should i do?).
Aku sekarang ( dan ku harap selamanya aku ingat akan hal ini ) sadar dia bukan milikku, aku belum berhak atas dia, karena aku belum mampu membeli dia dari Tuhan, jadi aku belum berhak berharap banyak agar dia menjadi milikku. Aku harus tahu diri. Masih untung Dia mau minjemin, coba kalau gak? ( ya.. berantamlah apa lagi....... ;) piss God ;) ).
Aku sekarang harus berpikir bahwa aku gak boleh takut kehilangan dia karena dia bukan milikku. Yang harus aku lakukan adalah aku harus menjaga dia agar tidak hilang dan rusak pada saat yang empunya hendak mengambilnya dariku. Pada saat dia diambil, aku tak boleh bersedih ( tapi gak mungkin Tuhan........ )aku harus melepas dia walau berat. Tuhan ingatkan aku untuk tidak bersedih saat Kau mengambil pinjaman itu.
Aku sadar bahwa pengorbanan yang kulakukan selama ini bukan untuk dia secara langsung, aku melakukan itu semua agar yang empunya dia mau meminjamkan dia padaku. Aku punya niat untuk memilikinya, tapi kurasa yang empunya belum mau melepaskan dia untuk ku. Aku masih harus berusaha meyakinkan yang empunya bahwa aku bisa menjaga dia seperti Dia menjaganya ( woiii kalau ada yang tahu caranya email aku ya ....... he..he..he maklum bos aprentis/ pemula gitu lho ).
Sebelum ini aku selalu berkutat dengan harapan. Aku terlalu berharap banyak kepadanya sehingga aku lupa bahwa terlalu berharap maka terlalu sakit saat itu tak terwujud. Aku harus bangun dari mimpi ini, aku harus jalan di jalan yang riil. Aku gak boleh kehilangan diriku supaya aku mendapatkan dirinya. Sama aja boong kalau aku dapat dia tapi kehilangan diriku, yang harus terjadi itu aku dapat dia dan aku tak kehilangan diriku, walau sulit aku harus tetap berjuang.
Sesuatu yang aneh memang bila kita memikirkan mengenai hubungan dua orang untuk menjadi satu jiwa ( kata orang cinta, tapi aku gak berani bilang karena aku sebenarnya takut dengan kata yang namanya cinta, yah seperti yang kualami sekarang ini). Adakalanya kita berusaha menjadi seperti yang dia inginkan dengan harapan dia akan suka dan dia menjadi milik kita, tapi kita lupa bahwa dia juga manusia yang tentunya berpeluang untuk berpikiran seperti kita, dan yang akhirnya terjadi adalah kita kehilangan makna dari hubungan tersebut dan tentunya kita juga kehilangan identitas kita. Inikah yang kita harapkan? Membangun hubungan 2 jiwa yang berbeda seperti membangun rumah diatas tebing. Kita harus berjuang terus menerus tanpa henti. Untuk membangun rumah di atas tebing kita harus mendaki tebing, kita harus memikul bahan-bahan untuk membangun rumah itu, setelah semua bahan telah berada diatas tebing, kita harus membangunnya dengan resiko akan runtuh saat angin kuat bertiup bila kita memikirkan kapan waktu yang tepat, bagaimana bentuk pondasi yang kuat, dan sebagainya. Saat rumah itu selesai kita masih harus memikirkan bagaimana menjaga agar rumah itu tetap hangat didalam saat angin gunung berhembus tiap malam. Adakah kita sanggup?
Itulah segelumit yang dapat ku keluarka dari pikiran ku mengenai hubungan 2 jiwa. Ini semua lahir setelah aku merasakan bagaimana beratnya pelajaran ini. Esensi dari hubungan 2 jiwa ini adalah bagaimana kau tetap menjadi dirimu tapi dapat harmonis dengan diri yang lain dan memilikinya selamanya. Seperti mendaki tebing, banyak batu tajam yang siap menghantam kaki kita, tanpa kita sadar dan tanpa bisa kita lari. Jangan pernah menyerah, menyerah bukan bagian dari kita ingatlah!.
Jangan sedih dan kecewa saat tumitmu terluka dan kau harus berhenti sejenak, tapi berbahagialah karena kau telah melangkahkan kakimu di tebing hidup yang paling terjal itu. Berbhagialah karena darahmu muncrat karena berjuang bukan karena sakit kelamin!
Jangan pernah menyerah karena kita diciptakan Tuhan tidak bersama kata menyerah.

Salam Jiwa Bebas.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home