Saturday, June 25, 2005

catatan orang "aneh"

Aneh kurasa. Memang susah untuk pulih dari keterpurukan. Ada saja perasaan yang berusaha membawa kita kembali kedalam keterpurukan itu. Ternyata tak segampang mengucapkan untuk bangkit dari keterpurukan itu. Kita bisa buntu, seolah-olah semua hancur, tak berguna. Kita sering lupa, bahwa kita punya kekuatan yang mampu membangkitkan kita. Namun kadang kita tahu kita punya kekuatan untuk itu, tapi kita tidak tahu bagaimana menggunakannya.
Seperti yang kualami sekarang, begitu banyak kurasa hal-hal yang menekanku, aku seperti diperlihatkan kepada semua yang buruk, hidupku bakal hancur, aku dikecewakan, aku telah mengambil langkah yang salah, semua terjadi karena kebodohanku, ini akibat dosa masa lalu, aku tak punya harga diri, aku bakal kehilangan orang yang kusayangi, aku dicuekin ama dia, dia sebenarnya hanya butuh aku seperti ketika dia butuh mainan, dll. Benarkah semua hal-hal diatas? Aku gak tahu. Nah jawabannya sudah jelas aku tidak tahu itu bisa timbul, itu belum terbukti, itu hanya pertanyaan imajinasiku, itu semua timbul karena ada masalah. Aku sudah mendapatkan jawabannya yaitu itu akibat ada MASALAH. Langkah yang diambil tentu menyelesaikan masalah itu. Segampang itukah? Ya memang tidak, apalagi ada rentang waktu antara padasaat hal-hal itu muncul dengan waktu untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Menunggu adalah pekerjaan yang membosankan, memang kita semua tahu itu. Dan karena menunggu itu sudah menjadi momok bagi kita, maka hal-hal itupun semakin kuat mengguncang kita. Maka sekarang yang menjadi lawan kita sudah 2, yaitu: menunggu yang merupakan pupuk dan hal-hal negatif yang jadi bibitnya. Kedua hal ini tentu saling berinteraksi, bibit tsb akan tumbuh dengan suburnya dan makin merajalela. Habiskah kita? Belum! Banyak hal untuk mengatasinya, seperti petani yang memiliki banyak cara untuk mencabut ilalang yang mengganggu gandumnya. Dan timbul pertanyaan lagi, apakah kita berpengalaman dalam hal ini seperti petani berpengalaman dengan hama? Jawabannya tentu tidak. Jadi apa yang harus kita lakukan? Inilah salahsatu cara bagaimana kita dapat mengolah kekuatan yang kita miliki tersebut. Kita harus berusaha menemukan cara membasmi kedua hal tersebut ( selanjutnya kita sebut hama jiwa ). Kita memang belum berpengalaman atau selanjutnya diri kita, kita sebut Trainee ( untuk memudahkan pemahaman ). Seorang Trainee dikatakan begitu karena sudah memiliki bakat, kenapa? Masalah hanya akan mendatangi orang yang mempunyai kekuatan baru, analoginya amerika memporakporandakan irak karena mereka beranggapan irak punya kekuatan yang suatu saat dapat menghancurkan mereka. Oleh karena itu mereka membunuh/menghancurkannya sejak dini. Begitu pula dengan hama jiwa ini. Mereka sadar bahwa suatu saat posisi mereka dalam jiwa kita sebagai Trainee akan tersingkir ataupun musnah pada saat jiw kita sudah menjadi Expert ( walaupun tidak menutup kemungkinan pada saat kita menjadi ahli, tetap akan ada hama jiwa ). Nah seorang Trainee harus sadar atau paling tidak yakin ataupun yang paling lemah dia tidak yakin tetapi mampu mensugesti diri bahwa kekuatan itu ada dan itu bisa digunakan. Namun bila untuk mensugesti diri saja kita tidak mampu, berarti kita bukan Trainee ( Go to Hell!!).
Bila kita sudah sampai pada tahap ini, barulah kita mulai membuka 1 per 1 cara yang kita miliki. Tapi kita harus tahu bahwa cara yang kita pilih sesuai dengan hama jiwa yang akan di berantas dan cara itu menekan pertumbuhan bukan malah menumbuhkan jenis hama jiwa yang lain. Cara-cara yang dilakukan harus dari yang paling sederhana sampai kepada yang paling kompleks. Ini dilakukan berdasarkan tingkat resikonya.
Banyak hal yang dapat dipilih sebagai cara, tapi ada 2 patron, yaitu:
1. membunuh dengan mencabut bibitnya
2. menghentikan distribusi pupuknya
Cara yang pertama mungkin sulit, karena ini bukan bibit yang sebenarnya. Ini perasaan, dapat dikatakan bibit ini jumlahnya tak terbatas, jadi sangat kecil peluang kita berhasil mengatasinya bila kita bergerak dari sini.
Baik menurut saya memilih patron yang ke 2, karena hal ini sifatnya eksternal. Kita dapat menghilangkan pemikiran mengenai lamanya waktu menunggu sampai kepada saat proses penyelesaian masalah tersebut.
Banyak hal yang dapat kita lakukan dalam mengisi waktu luang menunggu saat penyelesaian tersebut. Tapi benarkah pilihan kita untuk membunuh waktu itu? Ini yang sulit.
Memilih kegiatan yang tepat dalam menghadapi hama jiwa ini, kita harus tahu kegiatan mana yang dapat membawa kita keluar dari serangan itu tapi resiko untuk menumbuhkan hama jiwa yang lain sangat kecil.
Mesti diingat hama jiwa ini takkan pernah hilang, hanya dapat direduksi pertumbuhan dan penambahannya, seperti yang dikatakan oleh seseorang:
Didalam tiap jiwa / hati manusia selalu ada pengkhianat kecil.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home